Pewarta: Randa|Editor: Hadi
Situbondo,- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kini tengah berada di persimpangan sejarah. Partai yang pernah menjadi simbol persatuan umat Islam ini menghadapi tantangan besar pasca gagal menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2024. Krisis kepercayaan dan melemahnya basis dukungan umat membuat masa depan partai berlambang Ka’bah tersebut dipertanyakan.
Meski demikian, harapan untuk bangkit masih ada. Azis Chemoth, seorang pecinta PPP, menyampaikan pandangannya bahwa partai ini belum habis, selama berani melakukan pembaruan mendasar dan kembali pada akar perjuangan umat.(17/9/2025).
“Sebagai pecinta PPP, saya percaya partai ini masih punya ruang untuk bangkit. Namun kebangkitan hanya akan lahir jika PPP berani berbenah, kembali pada akar perjuangan umat, dan menghadirkan politik yang bersih serta merakyat,” ujar Azis Chemoth.

Menurutnya, PPP tidak boleh hanya bergantung pada romantisme masa lalu. Di era ketika masyarakat semakin kritis, jargon politik tanpa tindakan nyata tidak lagi mendapat tempat. Yang dibutuhkan adalah keberanian menata ulang arah perjuangan, mengembalikan marwah partai, dan menghadirkan politik yang solutif.
Azis Chemoth menegaskan, cinta terhadap partai tidak cukup tanpa langkah perbaikan. Politik penuh intrik dan perebutan kursi justru akan memperburuk citra partai di mata umat. PPP, katanya, harus kembali fokus membela umat, merawat persatuan, serta memperjuangkan keadilan sosial.
Ia juga melihat generasi muda sebagai kunci kebangkitan partai. “Generasi muda PPP adalah wajah baru yang bisa membawa partai ini lebih segar, lebih dekat dengan rakyat, dan lebih siap menjawab tantangan zaman,” tambahnya.

Momentum muktamar PPP yang akan datang disebut menjadi kesempatan emas untuk melahirkan pemimpin yang bersih, merangkul, dan mampu menyalakan kembali api persatuan.
“Masa depan PPP memang tidak mudah. Tapi sejarah mengajarkan, partai yang lahir dari semangat persatuan dan ketulusan umat tidak akan mudah hilang, selama ada cinta dan doa dari para pecintanya,” tegas Azis Chemoth.
Ia menutup pandangannya dengan optimisme. “Bagi saya, PPP bukan sekadar partai politik, melainkan cahaya yang pernah menerangi jalan umat. Saya yakin, cahaya itu bisa kembali bersinar.”













