Berita

Melawan Lupa: Demo AMPUN 2007 Situbondo

Portal Narasi
×

Melawan Lupa: Demo AMPUN 2007 Situbondo

Sebarkan artikel ini
AMPUN 2017
Ilustrasi (portalnarasi.com)
Reading Time: 2 minutesReading Time: 2 minutes

Situbondo, 2007.  Kota kecil di tapal kuda Jawa Timur itu tiba-tiba bergetar. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan, bukan untuk pesta rakyat, melainkan untuk menagih janji keadilan. Di tengah terik September, suara orasi menggema, mengiringi langkah kaki massa yang bergerak dari alun-alun menuju gedung kejaksaan dan DPRD. Mereka menamakan diri AMPUN (Aliansi Masyarakat Peduli Uang Negara).

Demo itu bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ia lahir dari keresahan mendalam: dugaan korupsi miliaran rupiah dana Kasda Kabupaten Situbondo yang menyeret nama Bupati Ismunarso. Kasus yang kemudian populer dengan sebutan Kasdagate itu membuat rakyat geram, sebab uang negara yang seharusnya untuk kesejahteraan justru diduga dipakai untuk kepentingan segelintir orang.

AMPUN menjadi wadah persatuan berbagai elemen: Mereka berbeda bendera, namun sepakat menyatukan suara: usut tuntas, tahan bupati, jangan biarkan hukum dipermainkan!

Koordinator lapangan AMPUN saat itu,Haji Lukman Hakim, memimpin jalannya aksi. Sementara di antara massa pendemo, ada sosok bernama Azis Chemoth yang mengambil langkah berani: menutup semua pintu gerbang Pemkab Situbondo dengan rantai dan gembok. Alhasil, gedung pemda benar-benar terkepung, tak ada satu pun jalur keluar yang terbuka.

Di dalam gedung pemda, saat itu kebetulan ada rombongan tamu dari DPD yang terjebak. Mereka tak bisa keluar karena setiap pintu gerbang telah dirantai rapat oleh massa. Ketegangan meningkat.

Akhirnya, Mashudi bersama Azis Chemoth mengawal iring-iringan tamu DPD yang hendak keluar. Jalurnya bukan dari pintu utama, melainkan lewat gerbang belakang samping barat pemda. Namun, gerbang samping itu pun sebelumnya telah dirantai dan digembok oleh massa. Baru setelah Satpol PP menjebol pintu, rombongan bisa bergerak keluar.

Trending:
Prabowo Kunjungi Korban Banjir Bekasi, Salurkan Bantuan

Mashudi bersama Azis Chemoth memasuki halaman samping pemkab situbondo dan berdiri di depan iring-iringan meminta agar semua kaca mobil diturunkan. Ia khawatir Bupati Ismunarso bersembunyi di dalam salah satu kendaraan rombongan. Massa bersorak, mata mereka mengawasi setiap mobil yang lewat, memastikan tak ada orang yang lolos dari tuntutan rakyat.

Orasi bergantian dilontarkan. Spanduk terbentang dengan tulisan besar, menohok pemerintah dan aparat hukum. Massa menuntut tiga hal utama:

  1. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur segera menahan Bupati Ismunarso.
  2. DPRD Situbondo jangan diam ambil sikap politik dan moral.
  3. Kasus Kasdagate jangan diperlambat, apalagi dipolitisasi.

Meski penuh desakan dan dramatis, aksi itu tetap berjalan tanpa kekerasan besar. Ribuan warga berbaris rapi, seolah ingin menunjukkan bahwa perjuangan rakyat bisa tertib sekaligus tegas.

Bagi masyarakat Situbondo, peristiwa ini adalah titik balik. Untuk pertama kalinya, rakyat dalam jumlah besar berani menantang kekuasaan yang mereka anggap menyalahgunakan amanah. Bagi sejarah lokal, Demo AMPUN 2007 menjadi simbol bahwa Situbondo tidak tinggal diam terhadap korupsi.

Kini, hampir dua dekade kemudian, gema orasi itu masih terasa: uang rakyat bukan untuk dirampok, hukum bukan untuk diperdagangkan.

(Tim)