Edukasi dan TipsKesehatan

Bahaya dan Fakta di Balik Beras Oplosan di Pasaran

Portal Narasi
×

Bahaya dan Fakta di Balik Beras Oplosan di Pasaran

Sebarkan artikel ini
Beras Oplosan
Waspadai beras oplosan yang beredar luas di pasaran. Jangan terkecoh hanya dari tampilan. (portalnarasi.com)
Reading Time: 2 minutesReading Time: 2 minutes

Baru-baru ini, Kementerian Pertanian (Kementan) menemukan adanya dugaan praktik beras oplosan oleh 212 merek yang beredar di pasaran. Temuan ini diperoleh setelah pihak Kementan menguji 268 sampel beras pada periode 6–23 Juni 2025.

Uji laboratorium dilakukan untuk menilai mutu beras, seperti kadar air, jumlah butir patah, derajat sosoh (tingkat pengupasan), dan jumlah beras utuh atau beras kepala.

Hasil Pengujian: Banyak yang Tidak Sesuai Standar

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa:

  • 85,56% beras premium tidak memenuhi standar mutu

  • 88,24% beras medium juga tidak sesuai standar

Artinya, sebagian besar beras yang dijual sebagai “premium” dan “medium” ternyata tidak sesuai dengan klaim di kemasannya. Hal ini tentu mengecewakan, terutama bagi konsumen yang membeli dengan harapan mendapat beras terbaik.

Apa Itu Beras Oplosan?

Beras oplosan adalah campuran antara beras premium dan beras kualitas rendah. Biasanya, beras yang lebih murah dicampur agar produsen bisa menekan biaya, tapi tetap menjual dengan harga tinggi.

Secara visual, beras oplosan kadang sulit dibedakan dengan beras premium. Tapi saat dimasak, perbedaannya akan terasa. Nasi dari beras oplosan biasanya cepat basi dan rasanya kurang enak.

Apakah Beras Oplosan Berbahaya?

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr. Aru Ariadno, beras oplosan tidak berbahaya untuk kesehatan jika bahan dasarnya adalah beras asli tanpa bahan kimia tambahan.

Namun, kualitas dan nilai gizinya lebih rendah dibanding beras premium murni. Kandungan vitamin B1 pada beras kualitas rendah lebih sedikit. Ini bisa berdampak pada kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus, terutama bagi anak-anak dan lansia yang membutuhkan gizi seimbang.

Efek Konsumsi dalam Jangka Panjang

Jika dikonsumsi sesekali, nasi dari beras oplosan tidak akan menimbulkan masalah besar. Tapi dalam jangka panjang, asupan gizi bisa berkurang, terutama jika nasi menjadi makanan pokok utama setiap hari.

Trending:
Golongan Darah A Lebih Berisiko Stroke Dini, Ini Faktanya

Misalnya, jika seseorang hanya mengandalkan nasi sebagai sumber utama energi dan vitamin, kekurangan zat gizi seperti tiamin (vitamin B1) bisa terjadi.

Kenapa Standar Mutu Itu Penting?

Standar mutu beras tidak hanya soal rasa atau penampilan. Kualitas beras juga berkaitan dengan:

  • Daya tahan nasi setelah dimasak

  • Kandungan nutrisi

  • Keamanan penyimpanan

Beras yang tidak sesuai standar bisa cepat rusak atau berjamur, apalagi jika kadar airnya tinggi. Ini bisa membahayakan jika disimpan lama tanpa kontrol suhu yang tepat.

Tips Menghindari Beras Oplosan

Agar tidak tertipu saat membeli beras, ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan:

  1. Beli dari merek terpercaya
    Pastikan produk berasal dari produsen yang jelas dan memiliki izin edar.

  2. Perhatikan tampilan beras
    Beras premium biasanya terlihat lebih putih, bersih, dan seragam.

  3. Cium aroma beras mentah
    Beras yang bagus biasanya memiliki aroma segar. Hindari beras yang berbau apek.

  4. Uji saat dimasak
    Jika nasi cepat basi atau warnanya mudah berubah, bisa jadi kualitas beras rendah.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Temuan Kementan ini harus menjadi perhatian serius. Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan dan memberikan sanksi kepada pelaku usaha yang curang.

Sementara itu, masyarakat juga harus lebih kritis saat membeli bahan pangan. Jangan mudah tergoda label “premium” jika tidak ada bukti mutu yang jelas.

Kesimpulan

Beras oplosan memang tidak langsung membahayakan kesehatan jika masih merupakan beras asli. Namun, kualitas dan nilai gizinya jauh lebih rendah dibanding beras premium murni.

Jika dikonsumsi terus-menerus, risiko kekurangan nutrisi bisa terjadi. Oleh karena itu, penting untuk lebih cermat dalam memilih produk beras, dan mendukung regulasi yang melindungi konsumen dari praktik curang.